Arsip untuk Januari, 2009

TAWADHU.

Posted in untuk renungan on Januari 17, 2009 by muramis

 

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. Al-A’raaf/7 : 146).

Tawadhu’ adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridho Allah maka  Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang   siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al Baihaqi)

Pengertian Tawadhu’

Tawadhu’  adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Ia berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran, apapun bentuknya dan dari siapa pun asalnya.

Seseorang belum dikatakan tawadhu’ kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhu’annya dan begitu juga sebaliknya. Ahmad Al Anthaki berkata : “Tawadhu’ yang paling bermanfaat adalah yang dapat mengikis kesombongan dari dirimu dan yang dapat memadamkan api (menahan) amarahmu”. Yang dimaksud amarah di situ adalah amarah karena ke-pentingan pribadi yang merasa berhak mendapatkan lebih dari apa yang semestinya diperoleh, sehingga membuatnya tertipu dan membanggakan diri (Kitab Ihya ‘Ulumuddin, Al Ghazali).

Sekarang ini kesombongan menjadi “pakaian” yang dikenakan banyak orang. Suka membang-gakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang lain membutuh-kannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, tidak mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat dimana-mana. Padahal kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk surga. Rasulullah saw bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi (HR. Muslim).

 Mengukur ketawadhu’an

Sa’id Hawwa dalam bukunya Al Mustakhlash fi Tazkiyatun Nafs, menyebutkan ada beberapa percobaan yang dapat dilakukan untuk mengukur apakah di dalam jiwa seseorang terdapat kesombongan atau ketawadhu’an.

1. Hendaknya ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia keberatan mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak berterima kasih atas bantuan lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka di dalam hatinya masih terdapat kesombongan. Sebaliknya, bila ia mengakui dan menerima kebenaran lawannya tersebut, berterima kasih kepadanya dan lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, misalnya dengan mengatakan, Alangkah bagusnya perkataanmu terhadap sesuatu yang belum aku ketahui. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas ilmu yang dibukakan oleh Allah untukku melalui kamu!, maka jika hal itu dilakukan berulang-ulang, sehingga manjadi tabiat dirinya berarti ia telah memiliki sifat tawadhu’ dan terbebas dari kesombongan.

Dalam suatu riwayat disebutkan tatkala Umar bin Khatab ra selesai menyampaikan pidato untuk membatasi mahar wanita, seorang wanita berdiri seraya berkata, “Wahai Umar, apa urusanmu dengan mahar kami, padahal Allah saw berfirman, “…sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak…” (QS. 4 : 20). Menanggapi hal itu Umar berkata, “Benarlah wanita itu dan salahlah Umar.

2. Hendaklah berkumpul bersama teman-teman sebaya dalam berbagai pertemuan, lalu mendahulukan mereka atas dirinya, tidak menonjolkan diri di tengah-tengah mereka, dan berjalan di belakang atau di tengah, bukan di depan. Bila hal itu terasa berat, berarti masih ada kesombongan di dalam dirinya. Sebaliknya, jika hal itu terasa ringan baginya, berarti sifat ketawadhu’an telah ada dalam dirinya. Abu Darda ra berkata: “Seseorang akan bertambah jauh dari Allah selama (ia menyukai) orang yang berjalan di belakangnya”.

3. Hendaklah memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah statusnya dari dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya berati masih ada kesombongan dalam hatinya. Dalam suatu riwayat dikisahkan, Rasulullah saw melihat ada orang kaya yang duduk di sebelah orang miskin lantas ia menjauh dari si miskin dan melipat pakiannya, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu?” (HR. Ahmad).

4. Hendaklah membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan keluarganya sendiri, tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk melakukan hal tersebut, meski tidak ada orang yang melihatnya maka itu adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa berat kecuali bila dilihat oleh orang banyak, maka ia termasuk riya’ (ingin diperhatikan orang lain). Keduanya merupakan penyakit jiwa dan lawan dari sifat tawadhu.’

5. Hendaklah memakai pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat melakukannya di hadapan orang banyak, maka ia riya’ dan bila ia tidak mau melakukannya saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan. Zaid bin Wahab berkata, “Saya meilhat Umar bin Khatab ra menuju pasar dengan membawa susu dan mengenakan pakaian yang padanya terdapat empat belas tambalan, sebagiannya tertambal dengan kulit binatang”.

Memperoleh ketawadhu’an

Sifat tawadhu’ tidak dapat diperoleh secara spontan, tetapi harus diupayakan secara bertahap, serius dan berkesinambungan. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh sifat tawadhu’ adalah :

1. Mengenal Allah SWT

Dalam sebuah kata mutiara disebutkan, “Setiap manusia akan bersikap tawadhu’ seukuran dengan pengenalannya kepada Tuhannya”. Orang yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya pengenalan akan menyadari bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kaya dan Maha Perkasa yang tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Karenanya, bila mendapatkan kebaikan maka ia memuji Allah SWT dan bersyukur kepadanya, sebab pada hakekatnya ia tidak mampu mendatangkan kebaikan kepada dirinya kecuali atas izin-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui dirinya kecil dan lemah, sehingga ia akan tawadhu’ dan merasa tidak pantas untuk berlaku sombong.

2. Mengenal Diri

Dilihat dari asal usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina yang selalu dibasuh jika terkena pakaian atau badan. Kemudian manusia lahir ke dunia dalam keadaan tanpa daya dan tidak mengetahui apapun. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan  Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS. 16 : 78).

Karenanya, manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadhu’, sebab ia lemah dan tidak mempunyai banyak pengetahuan. Bahkan ia tidak memiliki kemampuan sedikitpun untuk menyelamatkan makanan yang telah direbut oleh seekor lalat.

3. Mengenal Aib Diri

Seseorang dapat terjebak kepada kesombongan bila ia tidak menyadari kekurang dan aib yang ada pada dirinya. Boleh jadi seseorang mengira bahwa dirinya telah banyak melakukan kebaikan padahal ia justru melakukan kerusakan dan kezaliman. “Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang–orang yang mengadakan perbaikan” (QS. 2 : 11).

Oleh karena itu, setiap muslim harus selalu melakukan instropeksi diri sebelum  melakukan, saat melakukan dan setelah melakukan sesuatu sebelum ia dihisab oleh Allah SWT kelak. Hal itu juga agar ia menyadari kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadhu’ dan tidak akan sombong kepada orang lain.

4. Merenungkan nikmat Allah

Pada hakikatnya, seluruh nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya adalah ujian untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur. Namun banyak di antara manusia yang tidak menyadari hal tersebut, sehingga membanggakan, bahkan menyombongkan nikmat yang Allah berikan kepadanya. Sebagian ulama berkata; “Kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah pangkal kesombongan”. Karena itu, agar dapat menghilangkan sifat sombong dan memiliki akhlaq tawadhu’, setiap muslim harus sering merenungkan nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Selain yang telah disebutkan di atas, ada banyak lagi cara untuk menumbuhkan akhlaq tawadhu’, antara lain dengan merenungkan manfaat tawadhu’  dan kerugian sombong, mencontoh akhlaq orang-orang sholeh terdahulu yang tawadhu’, banyak berteman dengan orang-orang yang tawadhu’, dan lain-lain.

Bangsa Indonesia yang saat ini mengalami berbagai krisis sesungguhnya terjadi karena kesombongan pemimpin dan rakyatnya. Fenomena kesombongan, berupa pengagungan kepada diri sendiri, harta, ilmu, keturunan, dan lain-lain terjadi dimana-mana. Orang yang bersikap tawadhu’ sekarang menjadi langka dan malah dikucilkan. Padahal pertolongan dan petunjuk Allah hanya diberikan kepada orang yang tawadhu’, bukan kepada mereka yang sombong. “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyom-bongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya” (QS. 7 : 146)

oase ke e-mail saya.

MENARA TAK BERIZIN DIBONGKAR.

Posted in informasi on Januari 12, 2009 by muramis

TRIBUN BATAM.    
Senin, 12 Januari 2009 
Menara tak Berizin Bakal Dibongkar
BATAM, TRIBUN-Delapan hari lagi, Badan Komunikasi dan Informasi (Kominfo ) Batam akan mengajukan Ranperda Menara Telekomunikasi Terpadu (MTT) ke DPRD Batam. Jika mulus, paling tidak ada 100 menara telekomunikasi akan dirobohkan karena tidak mempunyai izin.

Kepala Badan Kominfo Muramis mengungkapkan, empat operator sudah menyerahkan data. Dari laporan itu, ada lima menara yang tidak berizin.
“Kami sudah memberi peringatan supaya menaranya itu dibongkar. Surat pertama sudah kita layangkan dan akan menyusul surat kedua. Apabila mereka tidak mau membongkar  sendiri, kita akan membongkarnya,” ujar Muramis, Sabtu (10/1).
Di Batam terdapat 250-275 menara. Padahal sesuai kesepakatan  untuk menjaga estetika kota, hanya ada 150 menara. Sehingga ada sekitar 100 menara yang akan dirobohkan.
“Mendirikan menara tanpa ijin dan tidak sesuai dengan  menara telekomunikasi terpadu yang sudah disepakati akan dirobohkan. Kita tidak main-main dalam waktu dekat akan kita robohkan menara yang tidak punya izin,” tambahnya.
Meski melalui pembahasan alot, Pemko Batam dan Otorita Batam sepakat pengalihan MTT ke Pemko Batam.

“OB pada prinsipnya sudah setuju, hanya saja mereka menunggu Perda MTT disahkan. Jika sudah disahkan maka semua  pengaturan menara menjadi tanggung jawab Pemko Batam,” paparnya.
Saat ini menara seluler  bertebaran dan  cenderung mengabaikan  estetika kota. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan telepon seluler dan teknologi informasi, pembangunan tower pun terus tumbuh subur.
Dari sembilan operator yang masuk ke Batam, empat operator yakni Axis, Indosat, Komet sudah menyerahkan jumlah menaranya ke Kominfo. PT Telkom dalam waktu dekat akan menyampaikan lokasi menaranya.

Sedangkan  yang belum menyerahkan lokasi menaranya adalah XL,  Fren, Telkomsel, Esia dan Three.
Muramis juga meminta pemilik ruko sebagai tempat berdirinya  menara untuk segera melapor ke Kominfo karena sebagian besar menara yang berdiri di ruko dan gedung belum punya izin. “Kita tidak  pandang bulu, apabila tidak punya ijin akan segera kita robohkan. Bagi yang punya izin ternyata tidak masuk dalam MTT diminta untuk bergabung,” imbau Muramnis.
Dalam anggaran 2009 ini, Kominfo ditarget memasukkan ke kas daerah dari MTT sebesar Rp 15 miliar.
Sekretaris Komisi III DPRD Batam Onwar Siahaan menyambut baik rencana Pemko Batam.”Kami sambut baik itu. Apabila sudah diusulkan akan segera kita bahas. Kami ingin segera MTT itu berlaku efektif supaya Pemko Batam bisa menarik retribusi,” kata Onward.(hat )

SUMBANGAN UNTUK PALESTINA

Posted in Beranda on Januari 5, 2009 by muramis
Penyerangan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun dan siapapun korbannya. Semoga perang berkepanjangan Israel Palestina dapat segera berakhir.

Kekuatan militer yang tidak seimbang menyebabkan banyak sekali korban di pihak Palestina. Untuk meringankan saudara kita di Palestina. Mari kita bantu mereka. Bantu dengan apa saja yang kita miliki. Bantu dengan uang jika memiliki uang, bantu dengan tenaga jika memang tenaga kita bisa berguna di Palestina (misalnya tenaga medis), dan juga bantuan yang tidak kalah pentingnya. Bantuan Do’a.

 

JANGAN HANYA PRIHATIN,

JANGAN HANYA MENGELUS DADA,

JANGAN HANYA MENGUTUK,

JANGAN HANYA LANTANG DALAM DEMO

Ayo kita bantu mereka dengan tindakan nyata.

Saat ini rakyat Palestina sangat butuh bantuan kita. Mari kita sumbang rakyat Palestina sebisa kita.

Sumbangan bisa dikirimkan ke :

BCA: No. Rek. 686.0153678 (a.n. Medical Emergency Rescue Committee)
BMI: No. Rek. 301.00521.15 (a.n. MER-C)
BSM: No. Rek. 009.0121.773 (a.n. Medical Emergency Rescue Committee)

Atau bisa juga melalui SMS dengan mengetik:

MERC PEDULI

kirim ke 7505

dengan mengirim SMS tersebut diatas anda akan mengirimkan donasi sebesar 5000/ SMS.

merc@indosat.net.id
Telepon: +62 21 3159235
Faks: +62 21 3159256
Nomor Ponsel: +62 811 99 0176
http://www.mer-c.org

Tim MER-C telah berangkat pada malam tanggal 1 Januari 2009. Selanjutnya akan diberangkatkan tanggal 3 Januari 2009.

Sebarkan Pesan ini ke teman dan kerabat anda

UNTUK SUAMI YANG SHOLEH.

Posted in untuk renungan on Januari 4, 2009 by muramis

 Dengan menikah Anda tidak saja mendapatkan seorang istri, tetapi Anda mendapatkan seluruh dunia. Sebagaimana kita ingat rasul bersabda bahwa

sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri sholihah. Yang akan menjadikan rumah kita bak surga, baiti jannati. Sejak pernikahan ini, mulai saat ini

sampai akhir hayat Anda insya Allah, istri Anda akan menjadi mitra, patner dan sabahat terbaik.Dengan dialah, Anda berbagi berbagai kejadian,

melewatkan hari dan tahun bersama. Dengannya lah Anda berbagi suka, duka, impian, harapan dan juga kecemasan. Ketika Anda sakit, dialah yang akan

merawat, ketika Anda memerlukan pertolongan dia akan mengupayakan semua yang dia bisa lakukan bagimu. Ketika Anda berbagi rahasia padanya, dia akan

menjaga rahasia itu dengan amanah; ketika Anda perlu nasehat, dia akan memberikan nasehat yang terbaik. Dan dia akan selalu bersamamu.

Ketika terbangun di pagi hari, yang pertama mata Anda lihat adalah dia. Dia akan selalu bersamamu, dan jika pada suatu waktu dia tidak ada di sisimu,

maka secara emosi dia ada bersamamu. Dia memikirkan, berdoa untuk kebaikanmu dengan sepenuh hati, dan Anda ada dalam pikiran, doa dan hatinya. Ketika

Anda tidur di malam hari, terakhir yang Anda lihat adalah dia; dan ketika Anda bermimpi, anda akan melihatnya dalam mimpimu. Kamulah dunianya dan

dialah duniamu.

Allah mengingatkan kepada manusia yang mencari keberadaanNya bahwa salahsatu tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menjadikan rasa kasih dan sayang.

Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Diamenciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamucenderung dan

merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapattanda-tanda

bagi kaum yang berpikir”. (QS. 30:21)

Tetapi hati manusia bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sangat dinamis.Perasaan dapat berubah setiap waktu. Dan cinta pun dapat terbang dan

hilang.Ikatan pernikahan pun bisa menjadi lemah bila tidak dijaga dengan baik dan kebahagian di dalam rumah tangga pun tidak bisa dijamin akan

berlangsung terus. Perlu usaha dari kedua belah pihak suami istri untuk saling menjaga keberlangsungan cinta dan kasih mereka. Ibarat sebuah pohon,

tanahnya perludirawat, dijaga dan dipupuk.

Oleh karenanya, inilah sedikit pesan untuk para suami yang sholeh ;

Di dunia kita, kita hidup di kehidupan yang sibuk dan melelahkan di kelilingi oleh berbagai macam schedule dan deadline. Bagi pasangan, ini artinya

kemungkinan Anda tidak bisa meluangkan waktu bersama-sama dan berada sendiri di tengah-tengah kesibukan kerja dan komitmen tugas. Anda jangan

membiarkan hal ini terjadi terus menerus. Cobalah sesekali Anda luangkan waktu untuk melakukan kegiatan secara periodik dengan istri Anda. Ingat rasul

juga pernah meluangkan waktunya untuk berlomba lari dengan Aisyah r.a.
Keluar dengan istri sesering mungkin, lakukan aktivitas bersama, mengunjungi teman bersama, piknik bersama atau sekedar berbelanja di mall bersama.

Selalu jaga romantika dalam hubungan Anda. Kehidupan modern hampir mengubah kita menjadi robot atau mesin teknologi tinggi tanpa emosi. Menunjukkan

emosi dan perasaan yang Anda rasakan perlu untuk menjaga ikatan pernikahan terhindarkan dari berkarat, peluruhan. Sebagaimana rasul bersabda

untukmenunjukkan rasa kasih dan sayang pada saudara yang kita cintai, “Katakanlah kepadanya kalau engkau mencintai saudaramu,” sebuah hadist untuk

menunjukkan cinta kepada teman karena ikatan ukhuwah. Terlebih lagi bila istri kita yang terikat dengan ikatan suci pernikahan, nyatakanlah.

Jangan meremehkan hal-hal penting yang terlihat kecil, seperti membawakan belanjaannya, memijit bahunya atau membukakan pintu mobil dan sebagainya.

Ingatlah bahwa rasul pernah menyediakan kakinya untuk membantu istrinya naik ke atas unta.

Usahakanlah untuk menyediakan waktu sholat berjamaah dengan istri.
Memperkuat hubungan Anda dengan Allah merupakan jaminan terbaik agar pernikahan Anda akan selalu terjaga kuat. Merasakan kedekatan dan kedamaain dalam

hubungan Anda dengan Allah akan terimplikasikan dalam hubungan Anda dengan istri di rumah. Ingatlah bagaimana rasul memberikan apresiasi yang sangat

besar bagi pasangan yang bangun malam hari untuk sholat layl (sholat malam/tahajjud) bersama atau seorang istri/suami yang membangunkan pasangannya

untuk sholat layl sekalipun dengan memercikkan air di muka pasangannya.

Lakukan usaha terbaikmu untuk menjadi terbaik bagi istri dengan kata-kata dan dengan perbuatan. Bicaralah padanya dengan baik, senyum padanya, minta

nasehatnya, mintalah pendapatnya, dan luangkan waktu yang berkualitas dengannya dan selalu ingat bahwa rasul bersabda “Yang terbaik diantara kamu

adalah terbaik memperlakukan istrinya”.

Adalah hal biasa yang terjadi dimana pasangan berjanji untuk mencintai dan menghormati istri/suaminya sampai maut memisahkan mereka. Saya percaya

bahwa janji ini adalah baik dan sangat baik.
Tetapi hal ini tidak cukup. Anda harus mencintai apa yang dicintai istri Anda. Keluarganya, dan hal-hal yang dia cintai harus menjadi kecintaan Anda

pula.

Tidak cukup pula mencintainya sampai maut memisahkan. Cinta tidak boleh mati dan kita percaya bahwa ada kehidupan akhirat, kehidupan setelah mati. Dan

insya Allah, akan dipertemukan kelak di akhirat.
Sebagaimana rasul mencintai Khadijah istrinya yang telah menemani beliau selama 25 tahun, beliau terus menerus mencintai khadijah dan mengingatnya.

Setelah kematian khadijah beberapa tahun berselang, rasulullah tidak pernah melupakannya bahkan sanak kerabat dan teman khadijah beliau utamakan yang

terkadang membuat Aisyah cemburu

Cintailah istri Anda, dan apa yang dicintainya. Cintailah ia tidak hanya sampai maut memisahkan tetapi sampai Anda dikumpulkan bersama kelak di

akhirat, insya Allah.

Semoga nasehat atau ajakan ini dapat menambah kecintaan Anda dan kecintaan istri Anda.

Dikutip dari berbagai sumber.

UNTUK ISTERI SOLEHAH

Posted in untuk renungan on Januari 3, 2009 by muramis

 

Hubungan antara seorang suami istri merupakan hubungan yang sangat penuh dengan hal yang mengagumkan. Tidak mudah digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa cinta, kasih sayang, keintiman, kedamaian serta kesejukan yang ada mengisi hati kedua pasangan manusia.
Penjelasan rasional adalah bahwa semua inilah anugerah dari Allah, dan semua itulah kehendak Allah. Dengan semua kuasa dan kehendakNya, Dialah yang menciptakan dan membuat perasaan ini hadir di hati pasangan suami istri.

Istri memegang peranan yang sangat penting dalam istana keluarganya. Maka ia dituntut untuk memahami peranan tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan berkeluarga. Berikut ada beberapa wasiat untuk mereka yang berhasrat menjadi istri yang mendambakan keluarga bahagia. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

1.Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat

Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah.

Wahai hamba Allah….jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.

Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata:”Aku mohon ampun kepada Allah..itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)..”Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:

-Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.

-Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum’ah.

-Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang briman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan”(QS. Al Hujurat: 11).

-Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Rasulullah bersabda:”Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya”(HR. Muslim).

-Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik yang kafir.

-Meniru wanita-wanita kafir. Rasulullah bersabda:”Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”(HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta dishahihkan Al-Albany).

-Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.

-Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah).

 
2.Berupaya mengenal dan memahami suami

Hendaknya engkau berupaya memahami suamimu. Apa -apa yang ia sukai, berusahalah memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khalik (Allah ‘Azza Wajalla).
3. Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik.

Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda:”Seandainya aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya”(HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albany).

Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda:”Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali”(HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).

Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).
4.Bersikap qanaah (merasa cukup)

Kami meninginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu sedikit ataupun banyak.

Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf radhiallahu ‘anhunna.Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu??? Ia berkata pada suaminya:”Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka.”
5. Baik dalam mengatur urusan rumah tangga, seperti mendidik anak-anak dan tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.

Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.
6.Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya.

Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
7.Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.

Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah radhiallahu ‘anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia.. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama:” Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menaggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran”.(HR. Mutafaq alaihi, Bukhary dan Muslim).
8.Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaannya.

Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.
9.Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).

Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi. Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’I seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.
10.Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan.

Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah melarang hal itu dalam sabdanya:”Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya”(HR. Bukhary dalam An-Nikah).
“Untuk para istri yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya. Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmatNya. Amin.

“DIKUTIP DARI TULISAN NABILLAH

ISTERI SHOLEHA

Posted in untuk renungan on Januari 2, 2009 by muramis

Istri yang Sholihat di mata Suami

Artikel dari Ustadz Joban

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

Istri Sholihat, Istri Yang Pandai Bangkitkan Gairah Suami

Rumah tangga yang tenang, harmonis, dan penuh dengan cinta. Ya, siapakah yang tidak merindukan model rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah (samara) itu?

Dimana seluruh anggota keluarga saling berkasih sayang, tolong-menolong dalam kebaikan, dan secara bersama-sama menegakkan perintah Allah. Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan, andai saja kita mampu mewujudkannya, surga dunia berarti telah kita raih.

Persis apa yang dikatakan Marie Von Ebner-Eschenbach, seorang sosiolog wanita Jerman. “Bila di dunia ada surga, surga itu ialah pernikahan yang bahagia.

Tetapi bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal,” kata Marie.

Nyaris tak seorang pun dapat menyangkal pernyataan Marie Von Ebner-Eschenbach.

Namun persoalannya, faktor-faktor apa saja yang bisa merealisasikan bangunan rumah tangga samara itu? Apakah cukup hanya dengan pembinaan agama pada seluruh anggota keluarga? Sehingga lahirlah sebuah keluarga yang agamis, atau memiliki komitmen yang tinggi dalam hal ibadah kepada Allah swt?

Iman kepada Allah, ketaatan dalam menjalankan perintahNya, serta membina hubungan yang baik dengan tetangga, adalah pilar-pilar yang menyangga bagi tegaknya rumah tangga yang harmonis. Jika dirangkum, pola-pola hubungan di atas bisa kita ringkas menjadi hablum minallah (hubungan kepada Allah) dan hablum minannaas (hubungan sosial). Tapi dua pilar itu saja untuk membangun rumah tangga samara, tidak cukup.

Masih ada satu pilar hubungan lagi, yakni hubungan suami-istri yang juga harus kokoh.

Jangan sekali-kali pilar terakhir ini dianggap sepele, sehingga suami/istri tidak pernah menjaga dan mengokohkannya. Sebab tak sedikit kasus-kasus pecahnya rumah tangga seseorang diawali dari hubungan suami-istri yang hambar. Hubungan yang tidak romantis alias tanpa kemesraan. Ironinya pasal kemesraan hubungan suami istri ini kadangkala kurang mendapat perhatian yang proporsional pasangan suami-istri (pasutri). Bahkan boleh jadi ada yang menganggapnya tabu untuk diperbincangkan.

Adalah merupakan fitrah manusiawi, seorang suami/istri ingin mendapat kehangatan dari pasangannya. Dan Islam sangat memperhatikan aspek ini, sebagai salah satu kunci tumbuhnya bangunan rumah tangga yang harmonis. Hubungan yang dingin antara suami-istri, seringkali merupakan titik awal kejatuhan sebuah rumah tangga.

Karena itu pada para pasutri berhati-hatilah, untuk tidak lalai menjaga, merawat dan menggelorakan api gairah hubungan itu.

Kali ini kita akan mencoba menyoroti peran istri dalam membangkitkan gairah suami.

Ini bukan soal tuduhan berat sebelah, seolah hanya istri yang dituntut untuk

menciptakan gairah hubungan suami-istri. Sebab seperti kita ketahui, laki-laki dan perempuan memang berbeda karakteristik seksnya.

Umumnya seorang perempuan bisa melayani keinginan syahwat suaminya kapan saja, sekalipun ia tidak siap. Ekstremnya, ketika sedang tidak memiliki gairah syahwat sekalipun perempuan bisa melakukan jima’ (hubungan intim) dengan suaminya.

Tetapi

tidak demikian dengan laki-laki. Secara fisik, hanya dalam keadaan tertentu ia bisa memenuhi hasrat seksual istrinya. Dan ini banyak dipengaruhi oleh kondisi psikis.

Pernah dalam sebuah acara diskusi keluarga, seorang peserta muslimah mengungkapkan masalahnya. Ia mengatakan, setiap suami mengajaknya ‘main’, ia selalu melayani.

Tetapi ketika ia menghendaki kemesraan pada suaminya, sang suami sering tidak siap.

Walhasil ia harus memendam kekecewaan dan kejengkelan karena hasrat seksualnya tak terpenuhi.

Di sisi lain tak sedikit para suami yang berupaya mencari obat-obat doping agar ia tidak loyo menghadapi istri. Atau dengan kata lain agar keperkasaannya bisa lebih prima dan lebih bergairah menghadapi pasangannya. Sebenarnya, insya-Allah suami tidak perlu menggunakan doping jika istri mampu membangkitkan gairah suami.

Kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita, semakin besar pula gairah laki-laki kepadanya.” Menurut riwayat, Rasulullah SAW juga pernah bersabda tentang masalah ini. Kata Rasululullah, “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya,” (HR Dailami dari Anas r.a).

Berkenaan dengan masalah ini, ada baiknya kita mendengar kisah Abdullah bin Rabi’ah.

Dia adalah orang yang terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Namun ada satu persoalan serius yang dihadapinya, yakni penisnya tidak bisa ereksi. Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan dan keburukannya dalam masalah ini.

Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi hanya beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali kepada keluarganya. Begitu seterusnya, sampai suatu ketika Zainab binti Umar bin Salamah berkata, “Mengapa para wanita lari dari anak pamannya?”

Ada yang menjawab, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tidak mampu membuatnya melaksanakan tugas sebagai suami.”

“Tidak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit. Demi Allah, saya adalah wanita yang berperawakan besar dan bergairah,” seru Zainab. Maka ia menikah dengan Abdullah.

Menurut riwayat Zainab selalu sabar meladeni suaminya dan akhirnya mereka dikaruniai enam orang anak.

Cerita Abdullah bin Rabi’ah dengan Zainab binti Umar ini memberi pelajaran menarik.

Bahwa impotensi yang cukup berat bisa tersembuhkan oleh istri yang bersemangat dan pandai membangkitkan gairah seksual suaminya. Abdullah bahkan bukan hanya sembuh dari penyakit impoten. Tapi bersama pasangannya yang bergairah, beliau memperoleh 6 orang anak.

Istri sholihat bukanlah wanita yang hanya cukup taat beribadah kepada Allah dan baik pada tetangganya. Tetapi ia juga harus baik terhadap suaminya, dalam arti pandai membangkitkan gairah seksual suaminya. Tentang bagaimana menggairahkan suami, Anda insya-Allah lebih mengetahui kiat-kiatnya.

Wallahu a’lamu bish-showwaab